Berdua kami melintasi jembatan sejarah
Tahun-tahun yang berhiaskan putih harapan dan merah darah
Aku bertanya : apakah yg sanggup mengubah gumpal luka mjd intan, yg membekukan air mata mjd kristal?
Sahabatku menjawab : Waktu. Hanya waktu yang mampu
Kulihat di kiri-kananku, pohon memudar, gedung kaca meruncing
Tahun-tahun yang berlumur peluh dan banjir rencana
Aku bertanya : apakah lelah kami ckup terbayar dg petuah dan janji? Apkah kemajuan = kebajikan?
Sahabatku menjawab : Hati. Hanya hati yang tahu
Terkadang jembatan ini gamang dan berguncang
Tahun-tahun yg terasa garang dan panas mengerontang
Aku bertanya : mungkinkah kami tersesat dan hilang arah? bisakah pijakan ini goyah dan lantas punah?
Sahabatku menjawab : Doa. Hanya doa yang kuasa
Jembatan panjang ini kami lalui sudah
Tiada ujung yg kutangkap, tiada awal yg kukenal
Aku bertanya : akankah kami bertahan? sbg nusantara, bangsa, manusia?
Sahabatku berkata : pahami lautan tmpt jembatan ini terbentang
Kenali kekuatan waktu. Dalami pengetahuan hati. Selami kekalnya doa.
Kabut menyapu jembatan dan sahabatku hilang. Meningggalakan gugusan pulau tak berjudul & samudra tak bernama.
Namun disini aku menguntai waktu, memerah hati, dan meratapkan doa
Demi jembatan ini sebagian kami mati, sebagian kami bertahan hidup
Aku bertanya : inikah kedaulatan yg sesungguhnya?
Saat manusia bersatu dg apa yg mengelilinginya. Samudra waktu, hati, dan doa.
Ia pun merdeka. Sebuah bangsa yg merdeka. Nusantara pun layak ada. Demikian jawabnya.
( diambil dari : Madre, halaman 123 - 125 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar