Minggu, 16 Oktober 2011

Entah #6

Waktu kamu berumur tiga tahun,
kamu bilang ingin jadi dokter
karna pernah terpesona pada jas putihnya.

Dua tahun kemudian,
kamu ingin jadi guru
karna jatuh cinta pada guru TK-mu,
yang bak pahlawan gagah penyelamat bumi.

Ketika kamu tiga belas taun,
kamu tak ingin jadi apa apa
karna kamu benci jadi dewasa.
Tapi dua taun kemudian
kamu mati matian ingin jadi penyanyi atau model, pokoknya selebriti
Apapun yang bisa membuatmu tampil di TV.

Tapi setaun kemudian kamu tau
jadi selebriti tak selalu menyenangkan
dan kamu tau kamu bisa hidup mewah dengan jadi pialang saham.
Kamu juga tau, melindungi kera di hutan tropis mungkin sangat memuaskan.

Setelah ulang taun kedelapan belas, muncul ketakutan ketakutan
kamu akan gagal,
selamanya tak menjadi siapa siapa.

Suatu saat nanti,
bila kamu sudah dua puluh taun,
melamun di ruang kuliahmu,
bertanya tanya,
apakah kamu telah melewati jalan yang benar?
Mungkinkah memulai sesuatu dari awal?

Waktu usiamu tiga puluh,
kamu tau kamu mungkin salah melangkah,
bekerja di hotel, ketika lebih sukan memakai jins belel.

Suatu saat,
di antara usia belasanmu,
kamu khawatir tak pernah menemukan pujaan hati.
Tapi kamu salah
karna sedetik kemudian kamu bertemu dengannya,
menatapnya kagum karna ia bagai dewa.
Kamu ragu, apakah dia orang itu?

Tapi siapa peduli?
Siapa yang tau kamu salah atau benar?
Siapa yang bisa memberi tau apa yang sebenarnya di ujung jalan sana
kalau bukan kamu yang berjalan diatasnya?

Tapi kamu salah lagi,
dia orang yang salah.
Dia bukan dewa.
Kamu menyesal, kecewa, dan remuk.
Kamu takut akan salah untuk kesekian kalinya.

Tapi tak perlu, tak perlu kecil hati,
meski tau tak bisa berbalik lagi.

Kamu tetap bisa berbelok, kamu selalu bisa berbelok,
karna jalan selalu punya persimpangan, meski entah di mana.
Bila tak bisa mundur, tak perlu takut, kita selalu bisa berubah arah :)


(dikutip dari : Dokter, Pelukis dan si Cowok plin-plan, by : Ken Terate)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar